Potensi diri merupakan kemampuan, kekuatan, baik yang belum terwujud maupun yang telah terwujud, yang dimiliki seseorang, tetapi belum sepenuhnya terlihat atau dipergunakan secara maksimal oleh seseorang (id.wikipedia.org)

Dalam perkuliahan saya tentang ibu profesional pada kelas matrikulasi, saya diminta untuk berfikir lebih dalam, tentang potensi suami, anak dan saya, pun, peran saya bagi keluarga, serta peran kelurga kami bagi masyarakat sekitar. Awal mula saya bingung bagaimana mendefinisikan potensi seseorang, hasil dari bertapa akhirnya saya mencoba menggolongkan potensi anak dan suami saya yang berjibun menjadi lebih sederhana. Sebagai berikut:

1. Potensi Suami:

Potensi Berfikir : Pribadi yang terbiasa berfikir, ia menjadi seorang pengamat yang menganalisis kehidupan, melihat gejala-gejala kehidupan & peristiwa aktual, menganalisis dan secara bijaksana mampu menarik kesimpulan yang lebih mendekati kehidupannya sendiri dan keluarga dengan kata lain perencana masa depan keluarga yang siap menghadapi berbagai kemungkinan masa depan. Seperti kematian, penyakit, krisi moneter global, investasi,  pendidikan anak dll. Mampu menyederhanakan sebuah permaslahan yang rumit.

Potensi  Ketahanan Mental: Saat situasi sedang tidak memungkinkan dan berada pada titik terendah hidupnya, ia mampu mengabaikan perasaan, rasa sakit, lingkungan yang tidak nyaman dan mampu terus berfokus memperjuangkan kehidupan yang lebih baik. Ulet!

Barangkali, lain kali saja saya upload surat cinta saya dengan konten kurang lebih mengenai potensi suami saya dan bagaimana layaknya dia menjadi ayah dari anak kami. Tapi yang pasti suami saya merasa sangat bahagia mendengar analisa saya tentang betapa dia berpotensi menjadi ayah profesional juga. Dia adalah suami kebanggaan saya.

Betapa ia terlihat bahagia, tampak dari setelah ia membaca surat cinta saya, ia menghampur keluar memeluk dan mencium serta berterimakasih. Sudah cukup suamiku, itu sudah cukup menjadi balasan yang kongkrit dari surat cinta pertamaku untukmu. Seperti kata ustadzah Aisyah Dahlan “Suami Gue Laki Banget” XD

2. Potensi Anak (3th):

Potensi Fisik : Sejak bayi sudah menunjukkan kemampuan pada sensor motoric kasar dan halus, keseimbangan badan dan beberapa kegiatan yang dilakukan dengan fisik dengan mudah dikuasai.

Potensi  Sosial Emosional : Anak bisa dengan cepat membaca situasi dan wajah orang lain, ia segera minta maaf jika ada raut wajah yang terlihat sedih atau kecewa, anak adalah jenis anak yang penyayang, ia mudah memaafkan temannya walaupun temannya sudah berbuat buruk padanya dan suka berbagi, periang dan murah senyum, mudah berteman dan menyukai teman baru.

Potensi Ketahanan Mental :  ia sanggup menahan rasa sakit saat bermain disbanding dengan teman sebayanya. Ketika terluka, ia tetap menangis tapi tidak lama lalu bilang “Nggak papa ma” agar ia tetap diijinkan bermain dengan teman2nya. Setiap berada ditempat baru, ia merasa seperti medan baru yang harus ditaklukkan, bersusah payah dengan mengabaikan perasaan takut dan sakit untuk mencapai tujuan.

 

3. Potensi Saya dan Manfaatnya untuk Keluarga:

Potensi Berfikir : Didalam organisasi, hasil survey terhadap teman-teman, mereka berkata “saya cenderung bisa berfikir cepat,  pada situasi yang tak terduga, memiliki ide ide yang kadang belum sempat terfikirkan, dan mampu mengambil tindakan dg cepat”.

Nah peran saya didalam keluarga mengenai potensi saya adalah Jika suami saya seorang pemikir untuk hal-hal besar, saya adalah seorang pemikir yang spontan.  Saya bisa mengambil tindakan dan antisipasi dengan cepat terhadap masalah yang mendadak & tak terduga, dengan kata lain mem back-up delay keputusan dari suami karena beliau membutuhkan waktu dalam mematangkan konsep & keputusan.  Keputusan cepat yang saya ambil bisa menambah tenggang waktu untuk suami saya menentukan keputusan dan terkadang suami juga akhirnya menggunakan ide saya untuk hal-hal tertentu. Sehingga kelurga kami terlihat kompak, cepat dan tepat dalam mengambil keputusan-keputusan.

Potensi Sosial Emosional : Saya cenderung bisa membaca air muka dan intonasi suara, peka terhadap kata-kata tersirat, sikap dan gerak-gerik. Seringkali saya diuntungkan dalam diskusi yang bisa dibilang alot, dengan menyampaikan keinginan saya atau organisasi yang diletakkan pada sudut pandang lawan bicara. Sehingga usul  yang saya kemukakan jadi lebih mudah diterima. Mampu mengendalikan emosi dan kedataran suara dalam forum terbuka. Setelah saya ingat,dulu  saya ternyata banyak bergabung dalam organisasi, karena saya suka bergaul dengan banyak orang, berteman dengan banyak orang.

Manfaat bagi keluarga saya mengenai potensi social emosional: Tipe manusia paling dominan yang dimiliki suami saya adalah Tipe pemikir, seperti halnya kita jika berfikir, kita membutuhkan tempat yang tenang dan jauh dari gangguan. Bagi suami saya pergi keluar rumah dan bertemu dengan orang baru, ada informasi baru, membuat ia tidak bisa berhenti memikirkan informasi baru tersebut dan bagi dia hal tersebut membuat dia menjadi lupa, kurang waspada atau mengganggu fokusnya untuk memikirkan masa depannya dan keluarganya. Dan lebih parah lagi, suami saya bekerja sebagai blogger. Jadi praktis dia hampir jarang bertemu dengan orang baru dalam kesehariannya, pergaulannya juga memang ia batasi sendiri karena alas an distraksi itu sendiri. Maka saya harus bisa menjadi tameng pertama dalam persinggungan keluarga dari orang-orang baru dan kegiatan social lainnya. Pun, saya juga harus menjadi teladan yang baik bagi anak, agar ia tumbuh menjadi pribadi yang suka bergaul dan memiliki kepiawaian dalam potensi sosial emosi.

Potensi Fisik : Saya adalah wanita yang enerjik, ketika kami terlibat dalam aktivitas yang sama, suami saya sudah mengeluh lelah dan ijin untuk istirahat, sedangkan saya masih berada bersemangat untuk melanjutkan aktivitas. Saya adalah wanita dg mobilitas tinggi, karena saya sudah terlatih sejak kecil. Dari kecil saya sudah terbiasa setelah pulang sekolah, masih ikut ekskul dan kursus itupun atas kehendak saya sendiri dan sayapun berangkat naik sepeda sendiri. Dari saya kecil sudah banyak bergabung dalam ekstra kulikuler dan organisasi, karawitan, melukis, menari, paduan suara, band music, theater, osis, pramuka dll. Semua sering saya kerjakan bersamaan dala satu waktu. Multi Tasking. Dan saya tidak pernah merasa kehabisan energy.

Manfaat bagi keluarga saya mengenai potensi fisik: bisa menyelesaikan tugas rumah dengan baik meski tanpa ART, bisa bermain bersama dengan anak dan bisa tetap bergaul dengan dunia luar, melakukan kegiatan sosial. Guna memback-up segala hal yg belum ter handle suami.

4. Lingkungan dimana kami tinggal,

Alhamdulillah cukup baik. Anak kami memiiki banyak teman sebaya tapi di kampung tetanggga, karena di komplek perumahan kami yang hanya 14 unit dan hanya ada 2 anak kecil di sini.  Hanya saja kebanyakan dari para ibunya belum melek IT sehingga referensi merek tentang pola asuh anak masih  minim. Kalaupun mereka browsing, mereka hanya menangkap informasi sepotong-sepotong dan masih menjalankan pola asuh yang kadang keliru.

Berhubung ayah dan ibu saya sudah meninggal, dan mertua saya jauh di purbalingga, hal itu memaksa kami hidup lebih mandiri. Kami mencari informasi melalui buku, forum dan internet cara mengasuh anak, justru malah kini kelemahan kami menjadi keuntungan bagi kami. Kami menjadi keluarga mandiri dan memiliki wawasan yang luas tentang metode pengasuhan anak. Untuk saat ini saya sudah mewacanakan istilah “ASI EKSKLUSIF”, Alhamdulillah mama-mama disini cukup berfikir terbuka, walaupun ketika saya menyapih anak kami ketika usianya 2th 1bln, mereka juga turut menyapih anak mereka walaupun anak mereka belum genap 2 tahun. XD Tidak apa-apa, yang penting ada peningkatan. Saya juga mewacanakan stop botol susu agar gigi anak tetap sehat. Walaupun gigi anak kami ada yang coklat, tapi minimal tidak habis dan hitam. XD Alhamdulillah ada beberapa mom yang mengikuti jejak saya setelah mendengan pemaparan saya tentang kesehatan gigi anak.

Berhubung saya lulusan sarjana komputer dan suami saya penyuka IT dan bekerja sebagai blogger, otomatis kami dijadikan rujukan dalam berbagai kendala IT. Mulai dari membuat blog, mencari peluang bisnis online, belajar berjualan di marketplace, social media, masalah laptop, android sampai masalah memori hape XD

Barangkali memang disini peran kami dalam masyarakat di sekitar rumah kami, kami menjadi rujukan IT dan rujukan pola asuh, maka dari itu, rasanya kami memiliki tanggung jawab untuk terus menambah wawasan dalam hal tersebut. Agar kami tidak menyampaikan informasi yang salah.

Sekiranya demikian hasil analisa saya, barangkali seiring berjalannya waktu masih bisa terus kami tambahkan pada bagian potensi dan peran keluarga kami.

Ayo dong share, menurutmu apa potensiku? XD

Addien

Addien

Artikel ini ditulis oleh Fajrina Addien di Stawbelly.Com. Silahkan mencantumkan link sumber dan penulis jika ingin mengutip artikel ini. Hargai hasil karya orang lain, kami tidak segan melaporkan tindakan plagiasi jika memang diperlukan. Thanks
Addien

Leave a Reply

Be the First to Comment!

Notify of
avatar
wpDiscuz